Hutan Drama

; stefani joanne angelina germanotta

Empat anak celeng, kodok dan panggung untuk dada yang membusung
Kelebat payudara dan pinggul silikon melewati bibir ungu yang teriak
Dunia kempis dihuni keriuhan suara dengan kalimat terbakar ampethamine
Gelombang hijau membuka hutan membias ke penjuru tubuh menarimu
Sela sela kegelapan bahasa untuk celoteh di ruang yang tercekik
Tak ada yang salah dalam kehidupan dan kebencian, tak juga kebenaran
Menarikan tubuh alkohol dan sinar kelabu seribu kota kita bergegas
Tahukah dahan dengan 10 juta daun daun berarak arak menciptakan angin
Menerbangkan sayap elang kuning yang berjatuhan dari matahari
Membawa seratus boneka berambut jarum berhamburan ke luka luka
Jaman melolong, sayang, tembok besi melahirkan jalan jalan kepergian
Ingus gadis belia yang mengering dalam mimpi menjadi ratu kematian
Melintasi tempat ke tempat dimana abu berterbangan ke langit
Anak anak celeng, anak anak landak, anak anak kodok labirin hutan dimana
Tak ada jalan lurus lagi untuk jiwa gelap dalam hidup yang memekik
Berputar putar dalam bahasa dunia yang menahan sakit, dari lengan dan bahu
Yang memberat oleh seloroh dan makian. Siapa peduli dengan not not patah
Tenggorokan perempuan yang melepaskan serigala untuk menggigitmu
Mengoyak jam jam impian keluarga bahagia dari brosur dan iklan kondom
Hutan celeng, hutan berdatangan ke kotamu ke tidurmu ke mimpi setubuh
Ke telepon yang tak henti memekik,
Carikan kelahiran untuk hadirat suci di pelosok hening
Ke tiap pembuluh nadi diriku sebagai dirimu dalam dengus celeng dengus hutan
Dengus kita meledakkannya dalam lagu bongkah bongkah batu!

by wahyu prasetya

Comments (5)

Nice poem on love......I liked it.
Love is that constant that can find its way through prison-bars Up to the stars;
A good poem and likes.
Simple yet profound. She seems to take literally the verse in the Bible that says GOD IS LOVE. By the way, Rita Hawkins, you are talking to someone who has been dead since 1848!
Sarah, great job on all your pieces or work.